PILIH MANA : KESELAMATAN ATAU KEAMANAN?

PILIH MANA : KESELAMATAN ATAU KEAMANAN?
Teks : Matius 3 : 7 – 9 Matius 6 : 19 – 21 Pilipi 2 : 12 Mazmur 123 : 4 Matius 9 :13
Ada sebuah ungkapan mengatakan : “ Hidup adalah Perjuangan”. Apakah anda setuju dengan ungkapan itu? Sesuatu yang kita perjuangkan tentunya adalah sesuatu yang sangat penting. Hidup adalah milik setiap orang yang sangat penting. Oleh karenanya setiap orang akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan dan memilikinya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita memahami akan makna hidup itu sendiri? Pemahaman kita akan makna hidup itu akan mewarnai perjuangan kita terhadap hidup ini. Karena dengan memahami makna hidup maka orang akan memiliki tujuan hidup.
Dengan tujuan hidup ini barulah ada motivasi untuk memperjuangkan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Judul renungan di atas memberitahukan kita adanya 2 pilihan tujuan hidup. Yaitu apakah tujuan hidup kita di dunia ini untuk mencari “Keselamatan” atau mencari “Keamanan”? Namun sebelum anda menetapkan pilihan , tentunya anda harus memahami lebih dulu perbedaan antara kata keselamatan dengan kata keamanan. Dewasa ini banyak orang acuh tak acuh memperhatikan betapa pentingnya memahami arti kata “keselamatan”, karena pada umumnya orang berpikir antara kata “Keselamatan” dengan kata “Keamanan” adalah dua kata yang sama artinya. Dalam bahasa Inggeris diterjemahkan berbeda antara kata keselamatan dan kata keamanan. Keselamatan diterjemahkan “Salvation” sedangkan Keamanan diterjemahkan dengan kata “Safety”.
Tuhan Yesus sendiri datang ke dalam dunia ini dengan misi keselamatan bukan misi keamanan, sebab itu Tuhan Yesus datang sebagai Juruselamat bukan datang sebagai Jurukeamanan, jadi arti kata keselamatan dengan arti keamanan adalah mempunyai makna yang berbeda. Begitu pula dengan kata “Juruselamat” dengan “Jurukeamanan juga mempunyai makna peran yang berbeda. Juruselamat hanya dilakukan oleh Allah sendiri di dalam Tuhan Yesus Kristus. Sedangkan Jurukeamanan dilakukan oleh para penguasa/pemimpin dunia yang di wadahi oleh Badan Dunia yang bernama PBB. Jelas sekali perbedaannya, bukan? Sebab itu tidaklah mengherankan kalau mayoritas orang di dunia ini bersikap acuh tak acuh terhadap tawaran anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Karena mereka mengira bahwa keselamatan identik dengan keamanan (safety). Apakah makna keamanan yang disalah tafsirkan hingga saat ini? Umumnya orang mendefinisikan keamanan itu sama dengan keselamatan, mereka berasumsi keamanan sebagai berikut : Hidup nyaman/ nikmat , memiliki banyak uang, banyak harta, banyak tabungan/ deposito, memiliki kesehatan, memiliki kepintaran, sangat religious, punya moral baik semuanya diukur dari segi lahiriah. Lalu mereka berpikir buat apa keselamatan itu? Bukankah dengan memiliki semua itu berarti saya sudah memiliki keamanan berarti saya juga memiliki keselamatan? Itulah gambaran secara umum anggapan banyak orang mengenai keselamatan. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah “Keselamatan “ seperti itu yang dibawa Yesus ke dunia ini? Sama sekali bukan!! Kalau kita mau jujur dewasa ini “Keselamatan” yang dibawa oleh Yesus diartikan secara keliru sebagai arti keamanan semata (keselamatan versi manusia ). Arti Keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus telah direduksi artinya sedemikian rupa menjadi keselamatan yang gampangan dan disepelekan orang. Bahkan telah diperjual belikan orang laksana barang komoditi/ barang dagangan , di mana para rohaniwan, para imam/ imam besar zaman sekarang ini laksana seorang makelar sedang mempromosikan barang dagangannya di pasar ( Untuk hal ini dalam Alkitab Tuhan Yesus pernah mengecam kelakuan para pemimpin agama/ parisi ).
Mereka bukan memberitakan Injil Keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus, mereka menyerongkan /memutar balikan/ memalsukan Injil Keselamatan Tuhan Yesus Kristus dengan mengajarkan hidup aman berkelimpahan sebaga keselamatan. Dan ajaran seperti ini sangat laku dijual ketimbang Injil Keselamatan yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Maka tidaklah mengherankan tempat ibadah/ gereja bentukan mereka lebih banyak pengunjungnya, samahalnya pada zaman Tuhan Yesus yang hanya mempunyai 12 orang pengikut, itupun semuanya pernah menyangkal Yesus. Sehingga Yesuspun hanya berdua dengan BapaNya ( Bapa Surgawi ). Umat manusia zaman sekarang ini bersikap masabodoh dengan anugerah keselamatan, mereka berpikir buat apa keselamatan itu? Hidup saya sekarang sudah mapan/ aman/ safety, paling paling yang saya butuhkan adalah agama yang bisa mententramkan hati saya. Dengan begitu saya bisa berdoa untuk mengamankan harta yang sudah ada. Tuhan tidak ubahnya sebagai satpam untuk hidup mereka. Mereka berkilah bukankah saya sudah menjadi orang yang bermoral baik, suka beramal, menolong orang miskin, bukankah semua agama mengajarkan kebaikan untuk bisa masuk ke surga dan itu yang saya lakukan. Itulah argument mereka, mudah mudahan bukan kita diantaranya. Bagi kebanyakan orang keselamatan diartikan sebagai keamanan semata, segalanya tidak lepas dari uang. Itulah faktanya di dunia ini. Mungkin kita sering mendengar kata kata berikut ini : “Kalau orang ingin selamat di dunia ini orang harus punya nafkah/ pekerjaan, punya kesehatan, punya keluarga, punya anak, punya koneksi. Ditambah lagi dengan banyak amal berbuat baik, maka mereka yakin akan selamat masuk surga. Itulah sebabnya karya penyelamatan Tuhan Yesus tidak direspon dengan baik dan dianggap sepele. Tradisi/ adat istiadat lama seperti kawin mengawinkan, beranak-cucu, mencari/memburu uang, makan minum tetap dipertahankan. Padahal kedatangan Tuhan Yesus ingin merubah tradisi/ adat istiadat itu dengan cara hidup yang baru. Sebab itu manusia perlu dilahirkan kembali ( Lahir Baru ). Para Rohaniwan ( Para Imam/ Imam Besar bersama pengikutnya ) tetap mempertahankan tradisi lama ini sejak zaman perjanjian lama, zaman perjanjian baru bahkan sampai saat ini terus berlangsung. Sayang sekali tradisi/ adat istiadat ini juga mendominasi gereja gereja di dunia ini pada zaman ini. Menyikapi fenomena ini hendaknya kita menyadari bahwa rangkaian adat istiadat yang pernah dikecam oleh Tuhan Yesus waktu berhadapan dengan orang parisi merupakan belenggu yang membahayakan dan mencengkeram kita. Kalau kita coba mempelajari berita pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, waktu itu Ia berseru : “ Bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat”. Di samping orang banyak yang berbondong-bondong menemuinya, ada juga para pemimpin agama/ orang parisi. Melihat kedatangan pemimpin agama/ parisi ini Yohanes Pembaptis bukan bersikap ramah terhadap mereka, justru sebaliknya Yohanes Pembaptis menghardiknya dengan kata kata keras sebagai berikut : “Hai kamu ular beludak, jangan harap kalian telah lepas dari hukuman Allah”. Kedatangan Yohanes Pembaptis yang merupakan perintis kedatangan Sang Juruselamat Tuhan Yesus Kristus dengan tegas menyatakan bahwa manusia belum lepas dari hukuman Allah. Berarti tanpa perjumpaan dengan sang Juruselamat maka manusia belum lepas dari hukuman Allah alias belum selamat. Untuk bertemu dengan Sang Juruselamat manusia haruslah dilahirkan kembali ( Lahir Baru ). Pemimpin agama/ parisi bersama pengikutnya merasa bahwa mereka adalah keturunan Abraham, orang orang pilihan Allah, ternyata perkiraan mereka keliru dengan menjadi orang yang religious bukanlah jaminan bahwa mereka sudah diselamatkan. Karena keselamatan bukanlah diperoleh dengan jalan agama atau jalan jalan lainnya. Keselamatan terjadi karena belas kasihan Allah yang diwujudkan dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Umat beragama pada zaman itu bahkan sampai sekarang ini beranggapan bahwa dengan memiliki agama berarti mereka telah ber-Tuhan atau memiliki Tuhan. Sungguh salah kaprah!! Agama bukanlah Tuhan. Oleh sebab itu agama tidak dapat menyelamatkan manusia, termasuk agama Kristen, karena Tuhan Yesus datang bukan memperomosikan suatu agama tertentu, tapi Ia datang sebagai Juruselamat. Kepada siapapun yang perlu belas kasihannya akan dilahirkan baru. Sebaliknya kepada orang orang yang telah merasa aman berlindung dibalik kedok agamanya, merasa aman berlindung dibalik hartanya, prestasinya, amal perbuatan baiknya, maka bagi mereka telah tertutup pintu keselamatan, karena mereka mengabaikan grasi pengampunan atas hukuman dosa yang telah ditetapkan untuk mereka. Kiranya renungan ini boleh menyadarkan kita, bahwa kita sangat membutuhkan keselamatan bukan keamanan dunia ini yang bersifat sementara. Keselamatan dari Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah bernilai kekal. Sama halnya dengan ungkapan yang mengatakan : “ Hidup adalah Perjuangan “, Demikian pula Keselamatan juga adalah perjuangan! Bagi mereka yang memilih keamanan duniawi, maka keamanan adalah suatu perjuangan dan mungkin dalam waktu singkat anda dapat memperolehnya bahkan anda dapat mewariskannya kepada keturunanan anda, tapi patut juga diingat bahwa keamanan duniawi juga bersifat sementara/ singkat, paling lama umur anda di dunia ini 100 tahun. Tapi lain halnya dengan keselamatan butuh perjuangan yang panjang dan berat dan masing masing harus memperjuangkannya sendiri sendiri tidak dapat diwariskan. Namun setelah berhasil dalam perjuangan itu maka akan memperoleh hidup yang bernilai kekal bukan hanya 100 tahun, tapi bernilai ribuan tahun bahkan jutaan atau milyaran tahun. Silahkan memilih!

Advertisements

KASIH VERSUS DONASI

KASIH VERSUS DONASI
Teks: Yohanes 3:16
Semua orang sangat familiar dengan kata “Kasih”, Tetapi sayangnya tidak setiap orang mengerti dengan benar makna kata kasih. Secara umum orang memaknai kasih adalah sama dengan memberi. Contoh sederhana bila kita melihat seseorang mengalami kesusahan, maka orang yang memberi pertolongan disebut orang yang telah menyatakan kasih. Apakah makna kasih sesederhana itu? Untuk menjawabnya marilah kita tampilkan suatu kata lain seperti yang ada dijudul renungan ini yaitu kata “Donasi”. Saya yakin kalau anda sering menonton TV akhir-akhir ini, maka kata ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Terlebih dengan sering terjadinya bencana yang datang secara beruntun, maka stasiun televisi termasuk para sponsor programnya selalu mencantumkan menghimbau para pemirsanya untuk memberikan donasi dalam rangka meringankan penderitaan bagi para korban bencana. Tentu saja kegiatan solidaritas ini sangat positip dan berfaedah. Pertanyaannya adalah : Apakah memberikan donasi sama dengan makna kasih yang sesungguhnya? Jawabnya tentu saja tidak! Lalu apa makna kasih itu? Dimanakah kita dapatkan arti kata makna kasih itu? Apakah dapat kita peroleh dari ilmu bahasa untuk mencari arti terminology kata kasih itu?
Dalam teks bacaan kita Yohanes 3:16 tertulis: “Karena demikian besar kasih Allah akan dunia ini sehingga diberikannya AnakNya yang tunggal, supaya barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Apakah Kasih yang dikatakan Injil Yohanes sama dengan makna kasih yang diajarkan manusia? Jika kita memperhatikan secara teliti isi ayat ini tidak ditulis kata kasih saja, tetapi ditulis 2 kata yang tidak terpisah yaitu “Kasih Allah”. Dengan demikian tentu saja jauh berbeda antara Kasih Allah dengan kasih versi manusia. Apa perbedaannya? Memang makna dari versi Allah dengan makna dari versi manusia dua-duanya ada kata memberi, tetapi tetap saja ada perbedaannya. Apa perbedaannya? Perbedaannya ternyata dari motif/pemberiannya. Seperti kita ketahui bahwa Allah adalah “ Kasih “ (I Yohanes 4:8), namun kasih itu telah diejawantahkan/diwujudkan dalam diri AnakNya Tuhan Yesus Kristus. Nah dari titik ini barulah kita bisa melihat perbedaan antara kasih milik Allah dengan kasih milik manusia. Kasih menurut versi manusia tidak lepas dari motifnya dan status social yang disandangnya. Kasih yang dinyatakan oleh pemimpin agama dan umat beragama adalah kasih yang didasarkan pada norma-norma agama/spritualitas/kerohanian/religiusitasnya. Bagi para pengusaha/majikan tentu kasih yang ditunjukkan didasarkan sama-sama untung (take and give ), sedangkan bagi para donatur (dermawan)/ dan yayasan yang dibentuknya tentunya didasarkan pada motif social. Apakah Kasih milik Allah memiliki motif yang sama seperti itu? Sama sekali tidak!! Kasih Allah adalah kasih yang tidak dimiliki manusia, hanya dimiliki oleh AnakNya yang tunggal yakni Tuhan Yesus Kristus. Jadi suatu kebohongan besar bila seseorang mengatakan ia memiliki kasih Allah walaupun ia rajin memberikan sumbangan (donasi), rajin melakukan kegiatan keagamaan, kegiatan social, karena Kasih Allah (Pemberian Allah) tidak sama dengan motif-motif yang dilakukan manusia. Kasih Allah adalah Kasih tanpa pamrih/tanpa motif dan sama sekali tidak dimiliki manusia. Cuma ada satu cara kata Rasul Yohanes dalam surat kirimannya, yaitu menyatunya kita dengan Tuhan Yesus Kristus sipemilik kasih Allah. Kemanunggalan kita dengan Tuhan Yesus Kristus akan merefleksikan Kasih Allah tersalur dari diri kita. Lalu apa yang membedakan kasih versi manusia dengan Kasih Allah? Tadi sudah dijelaskan bahwa kasih Allah adalah kasih yang memberi tanpa pamrih/tanpa motif, Kasih yang mau menyelamatkan meskipun Ia harus kehilangan nyawa, yaitu pemberian yang melekat dengan pengorbanan. Kasih manusia tidak ada yang seperti itu. Kasih manusia lebih banyak pada batasan simpati, tetapi Kasih Allah lebih dalam dari itu Allah berempati kepada orang-orang miskin/hina, dengan jalan mempersembahkan diriNya sendiri (Persembahan 100%, bukan 10%). Dalam kisah janda miskin yang mempersembahkan persembahannya yang mungkin berkisar sekitar Rp 1000,- sedangkan orang-orang kaya memberikan yang mungkin jutaan rupiah, secara kasat mata tentu orang menilai orang-orang kaya itu yang ibadahnya diterima Tuhan. Ternyata orang keliru, ternyata Tuhan Yesus berkenan terhadap pemberian janda miskin, bahkan Tuhan Yesus memujinya dengan mengatakan bahwa janda miskin memberi lebih banyak dari orang kaya itu. Tuhan Yesus tidak membutuhkan kasih versi manusia dalam bentuk donasi. Janda miskin memberi dari kekurangannya/kemiskinannya, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa janda miskin ini memberikan seluruh nafkahnya. (Seluruh miliknya 100%). Kasih Allah adalah kasih yang dilandasi oleh pengorbanan. Lalu Pengorbanan untuk apa? Mungkin orang mau berkorban disuruh apapun untuk meraih kesuksesan, kekayaan, kepintaran, atau melindungi keluarga yang kita kasihi, Semua itu masih dalam lingkaran diri kita/ego kita. Tetapi adakah orang yang mau berkorban bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi berkorban untuk orang lain bahkan untuk musuh kita? Untuk sahabatnya mungkin orang mau berkorban, tetapi tindakan Kasih Allah adalah diluar jangkauan pemikiran kita, Ia berkorban, mati justru untuk musuhNya. Bukankah Alkitab mengatakan ketika manusia berdosa maka manusia menjadi seteru/musuh Allah. Tak ada satu orangpun yang dapat mendamaikannya, kecuali Allah didalam kasihNya melalui AnakNya Tuhan Yesus Kristus. Pengorbanan Allah dilandasi oleh kebenaran/keadilan Allah. Keadilan Allah tidak sama dengan keadilan dunia ini. Keadilan Allah dilandasi oleh kasihNya laksana seorang Ayah terhadap anak-anaknya. Kasih yang mau memberi dan kasih yang mau berkorban. Lalu apa perbedaan antara keadilan Allah dengan keadilan dunia? Tentu berbeda. Keadilan dunia tetap membedakan status/hirarki seseorang. Sedangkan keadilan Allah didasarkan pada kebenarannya bahwa semua manusia telah berdosa, tidak ada perbedaan di-mata Allah. Apa arti tidak ada perbedaan? Berarti kita semua ini harusnya memiliki persamaan hak setelah kita dipulihkan dan diselamatkan oleh Kristus. Oleh sebab itu perintah baru yang diberikan Yesus menggantikan perintah agama yaitu “ Kasihilah Sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri”.

BERITA SUKACITA VERSUS BERITA DUKACITA

BERITA SUKACITA VERSUS BERITA DUKACITA
Teks: Lukas 6:20-26
Berita Sukacita dimulai dengan kelahiran Manusia Baru (Adam keII), yang juga dilahirkan tanpa benih laki-laki yaitu lahir oleh benih Roh”kudus, sama halnya dengan Manusia pertama Adam I yang tidak dilahirkan oleh benih laki-laki namun langsung dihembuskan oleh nafas Allah sendiri.
Kedatangan Manusia Baru (Adam keII) bernama Yesus ini bukanlah bertugas sebagai Pemimpin Agama (Imam) tetapi seperti yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, yang melukiskan Dia sebagai Hamba Allah yang taat sampai mati. Tuhan Yesus Kristus datang bukan dengan misi Agama, tetapi Ia datang dengan mengemban Misi Injil/Keselamatan. Ia datang bukan untuk mendirikan hirarki keagamaan. Tetapi Ia datang untuk mengimplementasikan seluruh hukum torat secara faktual yang sejak dulu kala telah diimplementasikan secara spiritual (ritual).
Tuhan Yesus datang dengan misi yang sama sekali berbeda dengan para pemimpin agama itu. Ia datang bukan untuk membawa Agama. Ia adalah Tuhan dari semua agama-agama yang ada. Ia adalah Tuhan untuk semua orang, baik orang beragama ataupun tidak beragama (kafir). Ia adalah pencipta semua orang/semua bangsa. Ia datang dengan jalan lain yang secara tegas menyatakan bahwa Ialah Jalan Kebenaran dan Hidup. Jadi Ia datang bukan dengan jalan Agama tetapi dengan jalan Kebenaran. Tentu saja ada perbedaan yang menyolok antara Tuhan Yesus dengan para Pemimpin Agama, baik dari sisi misi maupun pekerjaannya. Ia tidak mendirikan hirarki. Tuhan Yesus konsisten dengan misiNya sebagai Hamba Allah. Pada waktu memulai tugasNya Ia hanya memilih 12 murid secara bertahap, dimulai dari 2 orang murid yakni Peterus dan Andreas, kemudian akhirnya genap menjadi 12 orang. Ke-12 orang murid inilah pelanjut dari misi yang sudah dirintis lebih dulu oleh Yesus. Patut diingat bahwa Tuhan Yesus tidak mempercayakan misi Injil ini pada para Imam/pemimpin Agama/Parisi. Namun ada satu orang parisi bernama Saulus (Paulus) yang kemudian berjumpa dengan Tuhan Yesus secara langsung di-kota Damsyik. Saulus atau Paulus bertobat bukan oleh pemberitaan agama, tapi Paulus berjumpa langsung dengan Sang Injil Kebenaran itu, yakni Tuhan Yesus Kristus. Saulus yang semula sebagai pemberita Agama yang fanatik berubah 180 derajat dari Hamba Torat menjadi Hamba Injil (Hamba Kristus). Sebab itu sebutan bagi para pengikut Kristus bukanlah Imam melainkan dengan sebutan Rasul yang berarti Hamba.
Lalu apa relevansinya paparan di-atas dengan Berita Sukacita atau Berita Anugerah ini?
Berita Sukacitanya adalah kepada orang-orang yang dipilihnya sejak semula, orang-orang inilah yang akan dibenarkannya. Mereka dibenarkan bukan karena mereka orang baik, tetapi justru mereka dibenarkan karena mereka mengaku/menyadari bahwa mereka bukanlah orang baik dan mereka sadar bahwa mereka layak untuk dihukum, menjadi hina/miskin/tidak berdaya dan membutuhkan belas kasihan. Seperti seorang yang divonis oleh dokter memiliki penyakit yang kritis yang tidak bisa disembuhkan. Dan hanya bisa disembuhkan oleh seorang dokter spesialis. Maka Tuhan Yesus menganalogikan diriNya sebagai Dokter spesialis itu. Dan bagi orang yang menyadari dosanya sebagai suatu penyakit yang kritis pastilah mereka memerlukan belas kasihan dari Sang dokter Spesialis itu. Tuhan Yesus tidak datang bagi orang yang mengaku dirinya sehat atau orang baik-baik/orang-orang religius, sama sekali bukan!! Tuhan Yesus datang kepada orang-orang yang jujur terhadap keadaan dirinya, apapun agamanya, sukunya dan kebangsaannya. Merekalah yang dibenarkan/dikuduskan dan terpilih menjadi orang-orang kudus. Siapakah orang-orang pilihanNya? Apakah orang-orang Kaya? Apakah orang-orang pintar? Apakah para pemimpin/penguasa? Kalau ini dasarnya tentu hal ini bukanlah berita sukacita lagi namanya!! Kalau memakai ukuran dunia, tentu dasar seperti ini yang dipilih. Dunia memilih seseorang berdasarkan perbuatan baik/hasil karya/prestasi/jasa/kepintaran. Maka janganlah kaget kalau hal itu semua dapat dibeli dengan uang. Nah disinilah letak perbedaannya antara Berita Sukacita Injil yang dibawa Yesus dengan berita sukacita yang diberikan dunia ini. Lalu siapakah penerima Berita Sukacita Injil? Jawabnya ialah Orang miskin tidak berdaya. Merekalah Pewaris Surga. Lalu siapakah penerima Berita Dukacita. Jawabnya ialah Orang Kaya dan orang miskin yang kepingin kaya.

MURID KRISTUS ATAU ORANG KRISTEN?

MURID KRISTUS ATAU ORANG KRISTEN?
Matius 7 : 21 – 29 Roma 3 : 28

Mungkin anda bertanya-tanya dalam hati, apakah yang ingin disampaikan dengan judul renungan di atas? Untuk membuat anda tidak penasaran sebaiknya anda ajak orang orang lainnya, siapa saja ! Anda bisa mengajak pendeta atau orang orang Kristen lainnya untuk sama sama membaca dan mengkritisi isi renungan ini. Kali ini penulis tergerak untuk menulis topik ini, karena penting sekali untuk diketahui semua orang dan sekalian meluruskan pemahaman yang keliru yang terjadi dewasa ini.
Mayoritas orang beragama, khususnya orang orang yang menyebut diri mereka orang Kristen menyatakan bahwa mereka adalah orang orang beriman dan menjamin bahwa mereka telah diselamatkan masuk surga. Bagi orang Kristen umumnya hanya berpegang pada satu ayat sakti mereka Yohanes 3 : 16 di mana dikatakan: “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga dikaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya barang siapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Apakah Keselamatan Surgawi yang dibawa oleh Kristus bisa didapat semudah itu? Hanya menyatakan percaya, lalu otomatis dijamin akan selamat? Tentu saja tidak demikian saudara! Alkitab berisikan ribuan ayat yang saling kait mengait membentuk suatu pengertian yang utuh, satu ayat saja tidak dapat berdiri sendiri. Dalam konteks Yohanes 3 : 16, adalah merupakan sebuah dialog antara Tuhan Yesus dengan Nikodemus berisikan 21 ayat bukan ayat 16 saja. Dan yang menjadi entri point dari pembicaraan yaitu tentang syarat masuk surga atau keselamatan surgawi. Dimana Tuhan Yesus menekankan pada ayat 3 tentang pertobatan lahir baru. Nikodemus adalah pemimpin agama yang patuh pada aturan agama ( tanda kutip adalah seorang Kristen yang taat pada aturan agama ).
Pada masa kini mayoritas orang Kristen mempunyai penafsiran yang keliru bahwa orang beriman identik dengan orang percaya sebagai stigma yang melekat pada waktu mereka diteguhkan sebagai pemeluk agama Kristen. Keyakinan ini tidak lepas dari pengajaran yang turun temurun diajarkan oleh para imam/ pemimpin agama dari agama yang dianutnya dalam hal ini agama Kristen. Apakah kata percaya sama dengan kata beriman? Sama sekali tidak! Karena 2 kata tersebut berbeda maknanya. Dan sayangnya sampai saat ini para rohaniwan, para pemimpin agama ( Para pendeta dan sebutan lainnya ) tidak pernah menjelaskan arti perbedaan dari 2 kata ini. Sehingga sebagian besar orang Kristen dibiarkan dalam tidur yang berkepanjangan dan terlena dengan ajaran dongeng mereka, tanpa mendapatkan pemahaman yang benar tentang arti keselamatan surgawi yang hanya dapat diperoleh melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Padahal pemahaman tentang iman kepada Tuhan Yesus Kristus merupakan suatu informasi yang sangat dibutuhkan untuk meraih keselamatan surgawi. Kata menjadi percaya dengan kata menjadi beriman adalah 2 kata yang berbeda. Untuk menjelaskan perbedaannya, mungkin terminology dalam bahasa inggeris akan memudahkan kita untuk memahaminya. Terjemahan kata percaya dalam bahasa inggeris adalah to believe, sebab itu tidaklah mengherankan kalau orang Kristen disebut sebagai believer dalam bahasa inggeris dan pemercaya dalam bahasa Indonesia. Bukankah sinonim dari kata agama adalah dengan kata kepercayaan dari kata dasarnya percaya? Sekarang marilah kita pelajari apa arti kata beriman dan apa perbedaannya dengan arti kata percaya? Sebutan bagi orang beragama Kristen lazimnya disebut dengan kata umat/ orang percaya. Biasanya dilengkapi dengan agama yang dianutnya misalnya untuk Kristen akan disebut umat Kristen, sedangkan yang beragama islam disebut umat islam dan untuk yang beragama budha disebut umat budha dan umat umat agama lainnya. Jadi jelas kata umat di sini berarti pengikut dari suatu ajaran atau ideology yang dibawa oleh pemimpin tertinggi agama tsb. Nah disinilah letak kekeliruan dari pemahaman orang orang Kristen zaman ini, mereka mengira Tuhan Yesus sama dengan agama agama lainnya. Mereka juga menilai Yesus juga datang sebagai pemimpin agama/ Imam dan membawa agama baru, sungguh kekeliruan besar pemahaman seperti ini! Sebab itu perlu ditegaskan di sini bahwa Tuhan Yesus datang bukan sebagai pemimpin agama/ imam, tetapi Ia datang sebagai wujud dari iman bukan imam. Kalau begitu apakah makna iman itu? Untuk itu baiklah kita mengingat apa yang dilakukan oleh Abraham pada waktu Ia diperintahkan Allah untuk mengorbankan anaknya Ishak sebagai domba sembelihan, dan Ia melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, sehingga akhirnya Allah menggantikan seekor domba sebagai korban persembahan kepada Allah. Tindakan Abraham mengikuti perintah Allah diperhitungkan sebagai kebenaran. Walaupun Abraham waktu itu sebelumnya dari kaum penyembah berhala. Jadi jelaslah apa yang dilakukan oleh Abraham adalah tindakan iman. Apakah tindakan konkrit Abraham sehingga Ia akhirnya disebut sebagai Bapa Orang Beriman? Di situ Abraham tidak diminta untuk mempercayai sesuatu! Cuma ada 2 kata kunci di sini yaitu : 1. Ketaatan 2. Pengorbanan Implementasi dari kedua kata inilah yang dimaksud dengan iman. Tindakan Abraham di sini bukanlah mempercayai sesuatu ( to believe), tetapi mengikuti/mentaati pengorbanan yang diperintahkan oleh Allah ( to Follow ). Kata murid dalam bahasa inggeris diterjemahkan sebagai kata follower berasal dari kata to follow bukan to believe. Sebab itu sangat jelas dalam amanat/perintah agung Tuhan Yesuspun dikatakan : “Jadikanlah sekalian bangsa itu muridKu” bukan jadikan sekalian bangsa umat beragama. Dan pada kenyataannya telah dibuktikan dan dimulai oleh Tuhan Yesus sendiri dengan memulainya dari memilih 12 orang murid. Dan ke 12 murid inilah yang melanjutkan misi pekerjaan Tuhan Yesus di dunia ini, bukan para imam/pemimpin agama. Untuk lebih memperjelas perbedaan kata percaya dengan kata iman, mungkin analogi berikut ini dapat membantu saudara untuk memahaminya. Kita ambil contoh Pertandingan Olahraga Sepak Bola.Rasul Paulus sendiri dalam berbagai tulisannya mengatakan bahwa hidup ini laksana sebuah pertandingan olahraga. Seperti kita ketahui bahwa dalam pertandingan ada 2 komunitas yang berada di gedung stadion olahraga yaitu ada komunitas penonton dan ada komunitas pemain. Namun patut diingat bahwa yang berhak memperoleh pahala/medali adalah komunitas pemain, bukan komunitas penonton. Domain menang-kalah juga ada di pundak para pemain/pelaku, bukan para penonton.
Tentunya anda juga mengetahui bahwa syarat untuk menjadi pemain juga berbeda dengan menjadi penonton. Dari segi motivasi dan risikonya juga berbeda. Bagi pemain ada risiko menang – kalah. Bagi penonton tidak ada risiko menang – kalah. Dari segi jumlah banyaknya orang maka komunitas penonton jauh lebih banyak bisa berjuta-juta, sedangkan komunitas pemain berjumlah sedikit dan harus mengalami seleksi yang ketat. Dari analogi di atas mudah-mudahan anda sudah bisa membedakan mana komunitas penonton dan mana komunitas pemain, dalam hal ini pemercaya ( believer ) atau Murid Kristus ( follower)? Mana yang pengikut Iman dan mana yang pengikut Imam? Rasul Paulus dalam buku tulisannya mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman, bukan hasil usahamu…..dst. Jadi jelas disini bahwa iman tidaklah sama dengan percaya, karena keduanya mempunyai acuan yang berbeda. Yang satu pijakannya agama ( kepercayaan) dan yang satu lagi Sang Iman ( implementator pengorbanan ). Dan Tuhan Yesus juga mempertegas hal ini dengan mengatakan bahwa bukan orang yang berseru-seru Tuhan, Tuhan, yang akan selamat, tetapi keselamatan adalah bagi orang yang melakukan/mengikuti/mentaati apa yang diperintahkan Tuhan.(Matius 7 :21 -29 ). Nah dari gedung stadion olah raga dalam analogi tadi, kira kira komunitas mana , yang dikatakan Tuhan Yesus sebagai orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, bukankah itu mengacu pada komunitas penonton ( pemercaya )? Bukankah Orang yang berteriak-teriak dalam pertandingan olah raga, adalah komunitas penonton? Ada yang memuji, ada yang menghina. Tetapi bagi komunitas pemain, mereka tidak bisa menonton dirinya sendiri, mereka akan focus untuk memenangkan pertandingan untuk memperoleh pahala. Justru mereka adalah objek hinaan dan juga objek pujian! Kiranya renungan ini sebagai sarana memeriksa diri, di komunitas mana kita berada saat ini, tentunya anda sendiri yang tahu! Apakah kita berada di komunitas penonton? Tuhan Yesus sendiri sudah memperingatkan kita tentang 2 komunitas yang berbeda yaitu komunitas kambing dan komunitas domba senada dengan analogi pertandingan olahraga yang disampaikan Rasul Paulus yaitu komunitas penonton atau komunitas pemain. Selamat memilih!

Halaman

dikunjungi:

  • 15,539 kali